Larangan Telegram di India juga berdampak pada UEA. Berikut cara menyiasatinya
CEO Telegram Pavel Durov menuduh perusahaan telekomunikasi India Reliance menggunakan pembajakan BGP untuk menegakkan pemblokiran, sehingga mengganggu akses bagi pengguna hingga ke UEA.
Sumber: bleepingcomputer. com
Perkembangan ini menjadi salah satu sorotan penting dalam perkembangan keamanan siber. India telah melarang Telegram hingga 22 Juni setelah platform tersebut digunakan untuk menjual akses ke materi ujian yang bocor.
CEO Telegram Pavel Durov menuduh perusahaan telekomunikasi India Reliance menggunakan pembajakan BGP untuk menegakkan pemblokiran, sehingga mengganggu akses bagi pengguna hingga ke UEA.
Dalam postingan X, Durov menuduh telekomunikasi India Reliance "menyabotase" akses Telegram untuk pengguna di luar India, termasuk di UEA, melalui pembajakan BGP.
NTA mengatakan jaringan kecurangan menggunakan saluran, grup, dan bot Telegram untuk menjual akses ke materi ujian dan menyebarkan informasi yang salah, dan bahwa administrator saluran menyalahgunakan fitur edit untuk memundurkan tanggal postingan dan memberikan stempel waktu yang diubah sebagai bukti kebocoran sebelumnya. Itulah alasan pembatasan pengeditan yang berlaku hingga 30 Juni.
Dia mengatakan Telegram menghapus ratusan saluran yang menyebarkan materi bocor dan penipuan di India dalam beberapa minggu terakhir, dan pelarangan aplikasi tersebut tidak berdampak apa pun terhadap orang dalam yang bertanggung jawab.
Larangan tersebut juga menimbulkan reaksi politik yang tajam. Karti P. Chidambaram, Anggota Parlemen Kongres untuk Sivaganga, bertanya pada X apakah memblokir Telegram benar-benar merupakan langkah terbaik yang akan menghentikan kebocoran kertas ujian, dengan menandai NTA.
Secara keseluruhan, perkembangan ini memberi gambaran tentang arah terbaru di perkembangan keamanan siber dan alasan mengapa topik ini tetap relevan untuk terus dipantau.